

Seiring dengan semakin populernya budaya Korea Selatan di dunia, masakan Korea juga menjadi incaran para K-Popers sebutan para penggemarnya. Ini dia tiga masakan khas Korea teratas tahun ini. Ada beef bulgogi Korea Selatan salah satunya.
Baca Juga: 3 Tips Menerapkan Desain Cafe Korea
Pertama, para K-Popers suka berburu kimchi. Hidangan ini adalah sawi fermentasi dengan rasa asam dan tajam yang pertama kali menarik perhatian K-Popers.
Lalu ada bibimbap, nasi campur khas Korea yang dilengkapi dengan kombinasi nasi, sayuran, telur, dan terkadang irisan daging.
Lalu ada juga bulgogi yang saat ini sedang naik daun. Tidak hanya di Indonesia, popularitas beef bulgogi Korea Selatan hampir dirasakan di negara-negara yang memiliki banyak penggemar idola Korea, seperti Amerika Serikat.
Bulgogi yang sedang naik daun karena rasanya lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat dunia. Ini karena bulgogi adalah jenis kuliner barbekyu. Lantas, bagaimana sejarah bulgogi sebagai masakan Korea Selatan terpopuler di luar negeri?
Peter Serpico, seorang koki kontemporer di Amerika Serikat, berbagi dengan Smithsonian tentang bulgogi dan sejarahnya. Peter Serpico lahir di Seoul, Korea Selatan, dan dengan sepengetahuannya, ia membuka restoran Korea di negara bagian Philadelphia, Amerika Serikat.
Beef bulgogi Korea Selatan termasuk dalam salah satu masakan klasik Korea Selatan yang biasa disajikan di rumah. Hidangan ini berupa irisan daging sapi yang sebelumnya telah direndam dengan bumbu seperti bawang putih, kecap, dan minyak wijen.
Bulgogi berasal dari Dinasti Goguryeo, sekitar 37 SM. sampai 668 M. Pendahulu bulgogi adalah maekjeok, mirip dengan sate sapi. Tidak seperti bulgogi yang umumnya dibuat dengan daging sapi, maekjeok biasanya dibuat dengan daging babi. Maekjeok kemudian berkembang menjadi seoryamyeok, daging sapi yang direndam dalam kaldu dingin. Seoryamyeok juga disajikan dengan kuah dengan bahan yang mirip dengan bumbunya. Pada awal abad ke-20, ada evolusi lain dari seoryamyeok, yaitu neobiani.
Neobiani dianggap sebagai makanan mewah pada saat itu karena sering dikonsumsi oleh bangsawan di Korea. Neobiani memiliki bentuk yang sangat mirip dengan bulgogi. Sejarah kenapa neobiani berubah menjadi bulgogi sebenarnya agak rumit. Hal ini terkait dengan latar belakang penjajahan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Korea Selatan.
Singkatnya, pada 1920-an, daging sapi menjadi salah satu makanan paling populer dan tersebar luas di dunia. Di Korea Selatan harga daging sapi menjadi mahal karena pendudukan Jepang dan stok yang terbatas. Masyarakat Korea kemudian membuat olahan bulgogi dengan dua jenis yang berbeda. Yang satu mirip dengan seoryamyeok dan yang lainnya seperti yang kita kenal sekarang.
Pada 1990-an, harga daging sapi di Korea Selatan telah kembali normal dan beef bulgogi Korea Selatan segera menjadi hidangan populer. Popularitas bulgogi di Amerika Serikat sebenarnya sudah ada jauh sebelum demam Korea, yang juga dikenal sebagai gelombang Hallyu.
Bulgogi juga dibawa oleh imigran Korea Selatan yang datang ke Amerika Serikat. Karena penyajiannya yang mirip dengan barbekyu, bulgogi mudah diterima di Amerika Serikat. Di Indonesia, demam bulgogi sebenarnya berawal dari maraknya penggemar drama Korea yang ingin mencoba sensasi masakan khas negara idola mereka.
Baca Juga: Dalgona Adalah Kopi Viral, Simak Sejarahnya di Sini
Jika Anda sedang mencari bisnis franchise kopi ala korea PT Kopi Oppa Korea (Kopi Chuseyo) dimana Anda akan mendapat bimbingan bisnis dari 0, silahkan hubungi sekarang atau kunjungi blog kami untuk mendapatkan wawasan seputar franchise kopi Korea dan lainnya!