

Operasi plastik memiliki banyak kegunaan. Dari untuk mengobati kondisi setelah kecelakaan, melengkapi bagian yang kurang, hingga untuk tujuan estetik. Praktik ini juga sangat populer dan sering diasosiasikan dengan Korea Selatan. Selain karena media Korea Selatan, perkotaan di negara ini juga memilkii banyak iklan tentang operasi plastik.
Baca Juga: Iced Americano: Kopi Korea sebagai Gaya Hidup Selebriti Korea
Bahkan rata-rata siswa Korea Selatan akan melakukan operasi plastik agar mudah diterima kerja. Bagi mereka yang ingin bekerja di industri hiburan, operasi plastik adalah salah satu hal yang paling wajib dilakukan. Baik sekedar memperbaiki bentuk hidung hingga rekonstruksi keseluruhan bentuk wajah guna meningkatkan daya tarik audiens.
Meskipun demikian, kekentalan pengaruh operasi plastik di budaya Korea tidak hanya dari hasilnya yang memukau. Berikut adalah sejarah operasi plastik Korea yang mempengaruhi budaya Korea hingga saat ini!
Abad ke-8 sebelum masehi (SM) sudah menyaksikan operasi plastik pertama. Operasi ini berasal dari dokter India yang mengenalkan rhinoplasty dan otoplasti, yakni metode operasi yang memperbaiki hidung dan telinga. Pada abad 1 SM, orang-orang Romawi juga memperbaiki kerusakan telinga mereka dengan cara operasi.
Perang pada abad ke-19 menghasilkan banyak kerusakan parah pada bagian anggota tubuh para tentara maupun warga sipil. Kondisi ini memaksa para dokter untuk menemukan teknik baru dalam memperbaiki anggota tubuh yang rusak.
Pada tahun 1960-an, para dokter berhasil mengembangkan teknik dalam operasi plastik modern yang tidak hanya memperbaiki, namun juga meningkatkan penampilan. Memasuki bulan Juni, 1961, Yoo Jae Duk, seorang dokter Korea yang sedang belajar di Amerika Serikat, memperkenalkan operasi plastik ke negara asalnya.
Berkat Yoo Jae Duk, akademi operasi plastik Korea Selatan didirikan pada Mei 1966, dan Departemen Pelayanan Sosial dan Kesehatan mulai menerima operasi plastik sebagai bidang perawatan khusus.
Kecantikan merupakan salah satu faktor yang sangat dipertimbangkan dalam kompetisi karir di Korea. Di Indonesia, penampilan yang menarik merupakan salah satu kualifikasi tambahan, namun di Korea, terutama Korea Selatan, kecantikan sama pentingnya dengan nilai IPK.
Hal ini dibuktikan dari data statistik yang menunjukkan bahwa setidaknya 20% perempuan di Korea telah menjalani operasi plastik. Operasi plastik juga tidak jarang menjadi hadiah kelulusan bagi pada siswa dan mahasiswa Korea sebelum memasuki dunia kerja. Hal ini untuk memudahkan mereka dalam proses rekrutmen.
Operasi plastik ini seringkali ditujukan untuk mengubah bentuk wajah mereka hingga memiliki mata yang lebar (double lid), batang hidung yang tinggi, serta dagu yang runcing seperti struktur wajah orang Barat.
Asal mula standar kecantikan ala Barat ini berawal dari dr. David Ralph Millard. Dokter ini adalah lulusan dari Yale College dan Harvard Medical School dan dipekerjakan sebagai kepala ahli bedah plastik di Korea Selatan.
dr. Millard awalnya hanya memberikan operasi plastik rekonstruktif untuk tentara yang terluka, anak-anak, dan warga sipil lainnya yang terluka oleh Perang Korea. Berselang waktu, dr. Millar mulai memiliki minat yang tidak biasa untuk terhadap mata, rongga mata, dan lipatan kelopak mata.
dr. Millard mulai terobsesi untuk mengubah bentuk mata oriental (monolid) menjadi lebih lebar seperti struktur wajah etnis barat. Setelah berhasil mengubah bentuk seorang penerjemah Korea, dr. Millard mulai menargetkan untuk membuat jembatan hidung yang lebih tinggi dengan menanamkan lebih banyak tulang rawan ke hidung dan melebarkan mata dengan merobek lipatan mata bagian dalam untuk melihat mata yang lebih panjang, dan memodifikasi kelopak mata untuk membuat lipatan kelopak mata ganda untuk melenyapkan ciri Asia pada pasiennya.
Banyak wanita yang mengambil jalur operasi plastik ini merupakan wanita Korea yang hendak menikah dengan prajurit Amerika. Karena saat itu pernikahan antar ras masih ilegal dan wanita Korea dianggap sebagai ‘perusak budaya barat’, mereka memilih untuk melakukan operasi plastik dari dr. Millard agar lebih terlihat seperti wanita barat.
Nilai kecantikan dengan gaya barat ini kemudian diturunkan ke generasi-generasi berikutnya hingga akhirnya membentuk standar kecantikan Korea saat ini.
Standar kecantikan ini memiliki pengaruh yang sama pada ekonomi Korea, terutama Korea Selatan. Dengan para idola Kpop yang terus dilatih untuk memberikan yang terbaik pada seluruh audiens, media hiburan menjadi penyumbang terbesar pemasukan negara ini.
Popularitas ini juga mulai mempengaruhi preferensi negara lain, seperti Indonesia. Mulai dari gaya rambut, make up, fashion, hingga kuliner juga terpengaruh oleh budaya Korea Selatan.
Salah satu bisnis yang sukses memanfaatkan popularitas budaya Korea ini adalah franchise bisnis Kopi Chuseyo. Kopi Chuseyo memanfaatkan tema Kpop sebagai branding mereka, dan juga berhasil menciptakan hub pertama untuk komunitas Kpop Indonesia.
Baca Juga: 6 Tips Diet ala Idol Korea
Jika Anda sedang mencari bisnis franchise minuman kekinian ala korea Kopi Chuseyo dimana Anda akan mendapat bimbingan bisnis dari 0, silahkan hubungi Kopi Chuseyo sekarang atau kunjungi blog kami untuk mendapatkan wawasan seputar franchise kopi Korea dan lainnya!